Enam Syarat Mencari Ilmu Agama Islam

Posted by siemad (ahmad mukhodim) On Selasa, Juni 01, 2010 0 komentar

Enam Syarat Mencari Ilmu Agama Islam

Waktu sebagai satu variable penentu keberhasilan tercapainya cita-cita kita, segalanya berproses seiring berputarnya waktu.
Ilmu agama Islam bisa masuk ke dalam hati sampai kita bisa ridho menerima, meyakini dan mengamalkan semuanya memerlukan waktu.
Kalau kita sudah mengikuti cara mempelajari ilmu agama sebagaimana tuntunan Rosululloh SAW, insyaAlloh sampai waktunya nanti kita dapat menemukan kebenaran agama sebagai bekal menghadap IIlahi manakala sewaktu-waktu mendapatkan  panggilanNya
Sebaliknya, manakala sudah diberi kesempatan tapi tidak digunakan sebaik-baiknya, maka akan tergolong orang yang tidak mengindahkan rambu-rambu, dan akhirnya tergolong orang yang ingkar.
Nanti di akhirat orang yang mengingkari perintah Alloh SWT akan menyesal, hal ini sudah direncanakan oleh Alloh SWT, kita sekarang sudah dapat membuka “bocoran naskah” tersebut dalam QS Fatir (35): 36-37 sebagai berikut :
” Dan orang-orang yang kufur (mengingkari perintah Alloh SWT) baginya neraka jahanam. Tidak dihukumi atas mereka maka kemudian mati (meskipun dihukum / disiksa seperti apapun tetap hidup), dan siksaan mereka tidak akan diringankan. Demikianlah kami (Alloh SWT) membalas setiap orang kufur / mengingkari.
Dan mereka berteriak (menjerit) di dalam neraka jahanam ” wahai tuhan kami keluarkanlah kami, kami akan beramal solih bukan seperti amal saya dulu (di dunia)”
(Alloh menjawab) Bukankah Kami sudah berikan kamu umur (di dunia) sebagaimana orang-orang yang ingat/menjadi orang iman, dan bukankah orang yang memberi kabar penakut (Nabi Muhammad SAW)juga sudah datang padamu !!,
Maka (sekarang)rasakanlah, tidak akan ada penolong bagi orang yang aniaya (nekat, sengaja meremehkan)”
MasyaAlloh!!
Tentunya kita tidak ingin mengalami nasib seperti mereka, bukan!
Ya, mereka sekalipun menangis minta dikembalikan ke dunia untuk menjadi orang iman sehinggalah keluar “air mata darah”, sungguh sia-sia, tidak ada gunanya. Dunia / bumi sudah tidak ada wujudnya, hancur hilang karena prosesi kiyamat, yang ada tinggal dua pilihan, surga apa neraka. Link skema
Seluruh makhluk berwujud manusia yang pernah dihidupkan di bumi, pada masa akhirat hanya ada pada dua tempat, QS As-Syuro (42):7 : “Dan demikianlah Kami berikan wahyu kepadamu (Muhammad SAW) Kitab Al-Qu’an dengan ejaan Arab, agar engkau berikan kabar menakutkan kepada kampung (Makah) dan sekitarnya (seluruh dunia), dan agar engkau berikan kabar menakutkan tentang adanya hari perkumpulan (hari kiyamat) yang tidak ada keraguan atasnya, segolongan di surga dan segolongan di neraka”
Perlu  kita ketahui bahwa : Tholabil `ilmi minal mahdi ilaa lahdi
Mencari ilmu itu sejak lahir sampai liang lahad (akan dikubur). Jadi kesempatan kita hidup ini sangatlah luas dan waktu yang cukup panjang dan batas akhirnya adalah ”kematian”.
Dengan memiliki ke-enam syarat sebagaimana tersebut di atas, maka diharapkan disamping dapat meningkatkan efektifitas penghayatan perolehan ilmu agama, juga penghayatan hikmah/pengertian yang terkandung di dalamnya diharapkan berpengaruh positif terhadap mentalitas dan perilaku orang yang memiliki kebiasaan menuntut ilmu agama / mengaji.
Artikel terkait :


Keutamaan Ilmu Agama

Posted by siemad (ahmad mukhodim) On 0 komentar

Keutamaan Ilmu Agama

Diantara nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada kita ialah Allah mudahkan kita untuk mempelajari agama Allah, sebab ilmu merupakan nikmat yang sangat besar, yang mana Allah telah berfirman :
“Dan Allah telah menurunkan kepadamu kitab dan hikmah dan Allah juga mengajarkan kepadamu apa-apa yang kamu tidak mengetahui sebelumnya, dan adalah keutamaan Allah yang diberikan kepadamu adalam keutamaan yang sangat besar”
Kitab dan Hikmah merupakan dasar ilmu dari agama Islam yang membawa kita kepada kebahagiaan didunia dan diakhirat. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan Agama-Nya (Muttafaq ‘alaihi)
Dia akan mendapat kebahagiaan didunia dan diakhirat ketika Allah memudahkannya dalam mempelajari agama Allah. Allah ‘Azza wa Jalla Berfirman :
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Mujadilah : 11)
Allah akan mengangkatnya baik didunia dan diakhirat, coba lihat para Nabi dan Rasul, Allah angkat derajat mereka dimuka bumi, dan para Sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in.
“Sebaik-baik mereka adalah orang yang hidup pada zamanku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya”
Begitu juga dengan para ‘Ulama karena mereka mengambil apa yang diwariskan oleh para Nabi.
“Ulama adalah pewaris para Nabi, sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham tapi mereka mewariskan ilmu, barangsiapa yang mengambil warisan para Nabi maka ia telah mengambil bagian yang sangat besar” (Tirmidzi)
Ilmu akan tetap bermanfaat walaupun pemiliknya telah meninggal, berbeda dengan harta yang menjadi bagian bagi ahli warisnya. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Apabila anak adam telah meninggal maka amalnya akan terputus melainkan tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak yang selalu mendoakannya” (muslim)
Ilmu merupakan jalan untuk dimudahkannya seseorang untuk menuju surga. Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah memudahkan bagi orang itu jalan menuju surga” (Muslim)
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan menempuh perjalanan pada hadits ini bisa berarti ia benar-benar berjalan dari rumahnya untuk pergi menuntut ilmu atau ketika seseorang menghadiri tempat-tempat taklim atau duduknya seorang murid dihadapan gurunya untuk mendapatkan ilmu atau orang yang mencari jawaban-jawaban atas masalah-masalah dalam kitab-kitab ulama.
Kita menyksikan beberapa ikhwah kita yang merasa malas untuk mendatangi majlis – majlis ilmu dalam rangka tholabul ilmiy. Padahal para ulama mereka bersemangat dalam bepergian untuk mencari ilmu walaupun mengeluarkan harta dan meninggalkan keluarganya. Jabir bin Abdillah yang beliau berangkat ke negeri syam untuk menemui sahabat yang lain untuk mendengar hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam, begitu juga dengan Ibnul Mubarak, Imam Ahmad mereka berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain. Coba lihat contoh-contoh yang diberikan oleh para ulama ini, mereka bersemangat dalam meluangkan waktunya dalam menuntut ilmu.
Terkadang kita terjebak dalam bermudah-mudahan dalam menuntut ilmu, tidur-tiduran sambil dengar kajian atau sambil minum kopi atau yang lainnya, dan tentunya ini tidaklah pantas dilakukan.
Termasuk perbuatan riba ialah apabila seseorang itu mengkredit motor lalu apabila kreditannya tidak dilunasi dalam waktu yang ditentukan maka pihak pemberi kredit meminta uang tambahan pada si pembeli, begitu juga dengan sistim asuransi, sistim ini termasuk dalam gharar atau dalam bahasa kesehariannya kita sebut dengan istilah “beli kucing dalam karung”
Dalam menuntut ilmu kita haruslah semata-mata ikhlas lillahi ta’ala. Allah mengancam orang yang menuntut ilmu untuk kepentingan duniawi, sebagaimana sabda Nabi-Nya:
“Barangsiapa yang menuntut ilmu yang semestinya untuk mencari ridho Allah ‘azza wa jalla, kemudian ia mempelajarinya dengan tujuan hanya untuk kedudukan/ kepentingan duniawi, maka ia tidak akan mendapatkan baunya surga kelak dihari kiamat” (Abu Dawud)
Ilmu syar’i juga dapat mengantarkan pelakunya kepada Akhlak yang mulia. Dan orang yang berakhlaq mulia kelak dia akan bersama dengan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.
“Sesungguhnya orang yang peling dekat kedudukannya denganku dihari kiamat, yakni yang paling bagus akhlaqnya”
Keutamaan bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar kepadanya”
Allah juga akan memberikan rezki dari arah yang tidak disangka-sangka. Menuntut ilmu juga merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan rezki, Ada sebuah kisah tentang dua orang bersaudara yang satunya bekerja dan satunya menuntut ilmu kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam, lalu yang bekerja mengadu kepada Rasulullah bahwa saudaranya terus menerus bersama engkau sementara saya harus bekerja, lalu Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menyatakan bahwa bisa jadi engkau mendapatkan rezki disebabkan saudaramu itu tholabul ilmiy.
Tapi hadits ini jangan dipahami bahwa dengan begitu kita tidak perlu bersusah payah untuk bekerja atau berusaha mencari rezki.
“Ya Tuhanku, tambahkan kepadaku ilmu pengetahuan” (Thaha : 114)
Wallahu a’la
Artikel Terkait :


Kiat Memperlakukan Buah Hati

Posted by siemad (ahmad mukhodim) On Senin, Mei 31, 2010 0 komentar


Kiat Memperlakukan Buah Hati


 Pahami anak sebagai individu yang berbeda. Seorang anak dengan yang lainnya memiliki karakter yang berbeda. Memiliki bakat dan minat yang berbeda pula. Karenanya, dalam menyerap ilmu dan mengamalkannya berbeda satu dengan yang lainnya. Sering terjadi kasus, terutama pada pasangan muda, orangtua mengalami “sindroma” anak pertama. Karena didorong idealisme yang tinggi, mereka memperlakukan anak tanpa memerhatikan aspek-aspek perkembangan dan pertumbuhan anak. Misal, anak dipompa untuk bisa menulis dan membaca pada usia 2 tahun, tanpa memerhatikan tingkat kemampuan dan motorik halus (kemampuan mengoordinasikan gerakan tangan) anak.
فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (At-Taghabun: 16)
Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apabila aku melarangmu dari sesuatu maka jauhi dia. Bila aku perintahkan kamu suatu perkara maka tunaikanlah semampumu.” (HR. Al-Bukhari, no. 7288)
Kata مَا اسْتَطَعْتُمْ (semampumu) menunjukkan kemampuan dan kesanggupan seseorang berbeda-beda, bertingkat-tingkat, satu dengan lainnya tidak bisa disamakan. Ini semua karena pengaruh berbagai macam latar belakang.
- Memberi tugas hendaklah sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.
لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)
- Berusahalah untuk selalu menghargai niat, usaha dan kesungguhan anak. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tapi Allah melihat kepada hati (niat) dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim no. 2564)
Jangan mencaci maki anak karena kegagalannya. Tapi berikan ungkapan-ungkapan yang bisa memotivasi anak untuk bangkit dari kegagalannya. Misal, “Abi tidak marah kok, Ahmad belum hafal surat Yasin. Abi tahu, Ahmad sudah berusaha menghafal. Lain kali, kita coba lagi ya.”
- Tidak membentak, memaki dan merendahkan anak. Apalagi di hadapan teman-temannya atau di hadapan umum. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا
“Dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (An-Nisa`: 5)
- Tidak membuka aib (kekurangan, kejelekan) yang ada pada anak di hadapan orang lain. Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa menutup (aib) seorang muslim, Allah akan menutup (aib) dirinya pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 2442)
- Jika anak melakukan kesalahan, jangan hanya menunjukkan kesalahannya semata. Tapi berilah solusi dengan memberitahu perbuatan yang benar yang seharusnya dia lakukan. Tentunya, dengan cara yang hikmah. ‘Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu berkata:
كُنْتُ غُلَامًا فِي حِجْرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ
“Saat saya masih kecil dalam asuhan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya menggerak-gerakkan tangan di dalam nampan (yang ada makanannya). Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatiku, ‘Wahai ananda, sebutlah nama Allah (yaitu bacalah Bismillah saat hendak makan). Makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang ada di sisi dekatmu’.” (HR. Al-Bukhari no. 5376)
- Tidak memanggil atau menyeru anak dengan sebutan yang jelek. Seperti perkataan: “Dasar bodoh!” Ini berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ
“Janganlah kalian menyeru (berdoa) atas diri kalian kecuali dengan sesuatu yang baik. Karena, sesungguhnya malaikat akan mengaminkan atas apa yang kalian ucapkan.” (HR. Muslim no. 920)
- Perbanyak ucapan-ucapan yang mengandung muatan doa pada saat di hadapan anak. Seperti ucapan:
بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ
“Semoga Allah memberkahi kalian.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (Al-Baqarah: 83)
Juga selalu mendoakan kebaikan bagi sang anak, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” (Al-Furqan: 74)
- Berusahalah untuk senantiasa berlaku hikmah dalam menghadapi masalah anak. Tidak mengedepankan emosi. Tidak mudah menjatuhkan sanksi. Telusuri setiap masalah yang ada pada anak dengan penuh hikmah, tabayyun (klarifikasi). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا
“Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (Al-Baqarah: 269)
- Berusahalah bersikap adil terhadap anak-anak dan berbuat baik kepadanya.
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Nahl: 90)
- Hindari sikap-sikap dan tindakan yang menjadikan anak mengalami trauma, blocking (mogok), malas atau enggan belajar. Sebaliknya, ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا
“Permudah dan jangan kalian persulit. Gembirakan, dan jangan kalian membuat (mereka) lari.” (HR. Al-Bukhari no. 69)
Wallahu a’lam.
Artikel terkait :


  • Adab Membaca al-Quran



  • Kiat Memperlakukan Buah Hati



  • Cara Mudah Belajar Membaca Al-Qur’an



  • MEMBENTUK KELUARGA ISLAMI



  • Fitrah Pendidikan Anak



  • Matlamat Pendidikan



  • Cerita dan Lagu Anak Islam - Sholatlah Nak




  • Sejarah kabupaten purbalingga

    Posted by siemad (ahmad mukhodim) On Minggu, Mei 30, 2010 0 komentar

    Sebuah nama yang pasti tidak akan tertinggal ketika membicarakan sejarah Purbalingga adalah Kyai Arsantaka, seorang tokoh yang menurut sejarah menurunkan tokoh-tokoh Bupati Purbalingga.
    Kyai Arsantaka yang pada masa mudanya bernama Kyai Arsakusuma adalah putra dari Bupati Onje II. Sesudah dewasa diceritakan bahwa kyai Arsakusuma meninggalkan Kadipaten Onje untuk berkelana ke arah timur dan sesampainya di desa Masaran  (Sekarang di Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara) diambil anak angkat oleh Kyai Wanakusuma yang masih anak keturunan Kyai Ageng Giring dari Mataram. 
    Pada tahun 1740 – 1760, Kyai Arsantaka menjadi demang di Kademangan Pagendolan (sekarang termasuk wilayah desa Masaran), suatu wilayah yang masih berada dibawah pemerintahan Karanglewas (sekarang termasuk kecamatan Kutasari, Purbalingga) yang dipimpin oleh Tumenggung Dipayuda I. 
    Banyak riwayat yang menceritakan tenang heroisme dari Kyai Arsantaka antara lain ketika terjadi perang Jenar, yang merupakan bagian dari perang Mangkubumen, yakni sebuah peperangan antara Pangeran Mangkubumi dengan kakaknya Paku Buwono II dikarenakan Pangeran mangkubumi tidak puas terhadap sikap kakanya yang lemah terhadap kompeni Belanda. Dalam perang jenar ini, Kyai Arsantaka berada didalam pasukan kadipaten Banyumas yang membela Paku Buwono. 
    Dikarenakan jasa dari Kyai Arsantaka kepada Kadipaten Banyumas pada perang Jenar, maka Adipati banyumas R. Tumenggung Yudanegara mengangkat putra Kyai Arsantaka yang bernama Kyai Arsayuda menjadi menantu. Seiring dengan berjalannya waktu, maka putra Kyai Arsantaka yakni Kyai Arsayuda menjadi Tumenggung Karangwelas dan bergelar Raden Tumenggung Dipayuda III.
    Masa masa pemerintahan Kyai Arsayuda dan atas saran dari  ayahnya yakni Kyai Arsantaka yang bertindak sebagai penasihat, maka  pusat pemerintahan dipiindah dari Karanglewas ke desa Purbalingga yang diikuti dengan pembangunan pendapa Kabupaten dan alun-alun.
    Nama Purbalingga ini bisa kita dapati didalam kisah-kisah babad. Adapun Kitab babad yang berkaitan dan menyebut Purbalingga diantaranya adalah Babad Onje, Babad Purbalingga, Babad Banyumas dan Babad Jambukarang. Selain dengan empat buah kitap babat tsb, maka dalam  merekonstruksi sejarah Purbalingga, juga melihat arsip-arsip peninggalan Pemerintah Hindia Belanda yang tersimpan dalam koleksi Aarsip Nasional Republik Indonesia.
    Berdasarkan sumber-sumber diatas, maka melalui Peraturan daerah (perda) No. 15 Tahun 1996 tanggal 19 Nopember 1996, ditetapkan bahwa hari jadi Kabupaten Purbalingga adalah 18 Desember 1830 atau 3 Rajab 1246 Hijriah atau 3 Rajab 1758 Je.
    Artikel terkait :


    Cara Praktis Menghafal Al Quran

    Posted by siemad (ahmad mukhodim) On 0 komentar

    i

     

     ( باللغة الإندونيسية )
    Disusun Oleh:
    Dr. Abdul Muhsin Al Qasim
    ( Imam dan Khatib masjid Nabawi)
    Penerjemah :
    Team Indonesia

    Cara Praktis Menghafal Al Quran


    Murajaah :
    Abu Ziyad


    أسهل طريقة لحفظ القرآن الكريم
    .
    إعداد:

    عبد المحسن القاسم

    ترجمة:
    إيكو أبو زياد
    مراجعة:
    الفريق الإندونيسي


    Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah
     المكتب التعاوني للدعوة وتوعية الجاليات بالربوة بمدينة الرياض
    1428 – 2007
    الإسلام بين يدي الملايين! شعار حملناه لنشر الإسلام الصحيح والفقه في الدين المستمد من الكتاب والسنة بفهم سلف هذه الأمة بعشرات لغات العالم


    CARA PRAKTIS
    UNTUK MENGHAFAL AL-QUR AN

              Segala puji Bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad r. Dalam tulisan ini akan kami kemukakan cara termudah untuk menghafalkan al quran. Keistimewaan teori ini adalah kuatnya hafalan yang akan diperoleh seseorang disertai cepatnya waktu yang ditempuh untuk mengkhatamkan al-Quran. Teori ini sangat mudah untuk di praktekan dan insya Allah akan sangat membantu bagi siapa saja yang ingin menghafalnya. Disini akan kami bawakan contoh praktis dalam mempraktekannya:
    Misalnya saja jika anda ingin menghafalkan surat an-nisa, maka anda bisa mengikuti teori berikut ini:

    1-   Bacalah ayat pertama 20 kali:
    يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا {1}

    2-   Bacalah ayat kedua 20 kali:
    وَءَاتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا {2}
    3-   Bacalah ayat ketiga 20 kali:
    وَإِنْ خِفْتُمْ أّلاَّتُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّتَعُولُوا {3}

    4-   Bacalah ayat keempat 20 kali:
    وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا {4}

    5-   Kemudian membaca 4 ayat diatas dari awal hingga akhir menggabungkannya sebanyak 20 kali.
    6-   Bacalah ayat kelima 20 kali:
    وَلاَتُؤْتُوا السُّفَهَآءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {5}

    7-   Bacalah ayat keenam 20 kali:
    وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَابَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ ءَانَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَأْكُلُوهَآ إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُوا وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهَدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللهِ حَسِيبًا {6}

    8-   Bacalah ayat ketujuh 20 kali:
    لِّلرِّجَالِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَّفْرُوضًا {7}

    9-   Bacalah ayat  kedelapan 20 kali:
    وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُوْلُوا الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ فَارْزُقُوهُم مِّنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {8}

    10-        Kemudian membaca  ayat ke 5 hingga ayat ke 8 untuk menggabungkannya sebanyak 20 kali.
    11-        Bacalah ayat  ke 1 hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
              Demikian seterusnya hingga selesai seluruh al Quran, dan jangan sampai menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, agar tidak berat bagi anda untuk mengulang dan menjaganya.

    BAGAIMANA CARA MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA?
              Jika anda ingin menambah hafalan baru pada hari berikutnya, maka sebelum menambah dengan hafalan baru, maka anda harus membaca hafalan lama dari ayat pertama hingga terakhir sebanyak 20 kali juga hal ini supaya hafalan tersebut kokoh dan kuat dalam ingatan anda, kemudian anda memulai hafalan baru dengan cara yang sama seperti yang anda lakukan ketika menghafal ayat-ayat sebelumnya.

    BAGIMANA CARA MENGGABUNG ANTARA MENGULANG (MURAJA'AH) DAN MENAMBAH HAFALAN BARU?
              Jangan sekali-kali anda menambah hafalan tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya, karena jika anda menghafal al quran terus-menerus tanpa mengulangnya terlebih dahulu hingga bisa menyelesaikan semua al quran, kemudian anda ingin mengulangnya dari awal niscaya hal itu akan terasa berat sekali, karena secara tidak disadari anda akan banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal dan seolah-olah menghafal dari nol, oleh karena itu cara yang paling baik dalam meghafal al quran adalah dengan mengumpulkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Anda bisa membagi seluruh mushaf menjadi tiga bagian, setiap 10 juz menjadi satu bagian, jika anda dalam sehari menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga anda dapat menyelesaikan sepuluh juz, jika anda telah menyelesaikan sepuluh juz maka berhentilah selama satu bulan penuh untuk mengulang yang telah dihafal dengan cara setiap hari anda mengulang sebanyak delapan halaman.
    Setelah satu bulan anda mengulang hafalan, anda mulai kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, dan mengulang setiap harinya 8 halaman sehingga anda bisa menyelesaikan 20 juz, jika anda telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulang, setiap hari anda harus mengulang 8 halaman, jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah enghafal kembali setiap harinya satu atau dua halaman tergantung kemampuan dan setiap harinya mengulang apa yang telah dihafal sebanyak 8 lembar, hingga anda bisa menyelesaikan seluruh al-qur an.
              Jika anda telah menyelesaikan 30 juz, ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan setiap harinya setengah juz, kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya juga setiap harinya diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama, kemudian pindahlah untuk mengulang sepuluh juz terakhir dengan cara yang hampir sama, yaitu setiapharinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

              BAGAIMANA CARA MENGULANG AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH MENYELESAIKAN MURAJAAH DIATAS?
              Mulailah mengulang al-qur an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulangnya 3 kali dalam sehari, dengan demikian maka anda akan bisa mengkhatamkan al-Quran  setiap dua minggu sekali.
    Dengan cara ini maka dalam jangka satu tahun insya Allah anda telah mutqin (kokoh) dalam menghafal al qur an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun.

              APA YANG DILAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL QUR AN SELAMA SATU TAHUN?
              Setelah menguasai hafalan dan mengulangnya dengan itqan (mantap) selama satu tahun,  jadikanlah al qur an sebagai wirid harian anda hingga akhir hayat, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi r semasa hidupnya, beliau membagi al qur an menjadi tujuh bagian dan setiap harinya beliau mengulang setiap bagian tersebut, sehingga beliau mengkhatamkan al-quran setiap 7 hari sekali.
    Aus bin Huzaifah rahimahullah; aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah bagiamana cara mereka membagi al qur an untuk dijadikan wirid harian? Mereka menjawab: "kami kelompokan menjadi 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat,  dan wirid mufashal dari surat qaaf hingga khatam ( al Qur an)". (HR. Ahmad).
    Jadi mereka membagi wiridnya sebagai berikut:
    -      Hari pertama: membaca surat "al fatihah" hingga akhir surat "an-nisa",
    -      Hari kedua: dari surat "al maidah" hingga akhir surat "at-taubah",
    -      Hari ketiga: dari surat "yunus" hingga akhir surat "an-nahl",
    -      Hari keempat: dari surat "al isra" hingga akhir surat "al furqan",
    -      Hari kelima: dari surat "asy syu'ara" hingga akhir surat "yaasin",
    -      Hari keenam: dari surat "ash-shafat" hingga akhir surat "al hujurat",
    -      Hari ketujuh: dari surat "qaaf" hingga akhir surat "an-naas".
             
              Para ulama menyingkat wirid nabi dengan al-Qur an menjadi kata: " Fami bisyauqin ( فمي بشوق ) ", dari masing-masing huruf tersebut menjadi symbol dari surat yang dijadikan wirid Nabi pada setiap harinya maka:
    -      huruf "fa" symbol dari surat "al fatihah", sebagai awal wirid beliau hari pertama,
    -      huruf "mim" symbol dari surat "al maidah", sebagai awal wirid beliau hari kedua,
    -      huruf "ya" symbol dari surat "yunus", sebagai wirid beliau hari ketiga,
    -      huruf "ba" symbol dari surat "bani israil (nama lain dari surat al isra)", sebagai wirid beliau hari keempat,
    -      huruf "syin" symbol dari surat "asy syu'ara", sebagai awal wirid beliau hari kelima,
    -      huruf "wau" symbol dari surat "wa shafaat", sebagai awal wirid beliau hari keenam,
    -      huruf "qaaf" symbol dari surat "qaaf", sebagai awal wirid beliau hari ketujuh hingga akhir surat "an-nas".

    Adapun pembagian hizib yang ada pada al-qur an sekarang ini tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.

    BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (MIRIP) DALAM AL-QUR AN?
              Cara terbaik untuk membedakan antara bacaan yang hampir sama (mutasyabih) adalah dengan  cara membuka mushaf lalu bandingkan antara kedua ayat tersebut dan cermatilah perbedaan antara keduanya, kemudian buatlah tanda yang bisa untuk membedakan antara keduanya, dan ketika anda melakukan murajaah hafalan perhatikan perbedaan tersebut dan ulangilah secara terus menerus sehingga anda bisa mengingatnya dengan baik dan hafalan anda menjadi kuat (mutqin).

    KAIDAH DAN KETENTUAN MENGHAFAL:
    1-   Anda harus menghafal melalui seorang guru atau syekh yang bisa membenarkan bacaan anda jika salah.
    2-   Hafalkanlah setiap hari sebanyak 2 halaman, 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib, dengan cara ini insya Allah anda akan bisa menghafal al-qur an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun, akan tetapi jika anda memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka anda akan sulit untuk menjaga dan memantapkannya, sehingga hafalan anda akan menjadi lemah dan banyak yang dilupakan.
    3-   Hafalkanlah mulai dari surat an-nas hingga surat al baqarah (membalik urutan al Qur an), karena hal itu lebih mudah.
    4-   Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf tertentu baik dalam cetakan maupun bentuknya, hal itu agar lebih mudah untuk menguatkan hafalan dan agar lebih mudah mengingat setiap ayatnya serta permulaan dan akhir setiap halamannya.
    5-   Setiap yang menghafalkan al-quran pada 2 tahun pertama biasanya akan mudah hilang apa yang telah ia hafalkan, masa ini disebut masa "tajmi'" (pengumpulan hafalan), maka jangan bersedih karena sulitnya mengulang atau banyak kelirunya dalam hafalan, ini merupakan masa cobaan bagi para penghafal al-qur an, dan ini adalah masa yang rentan dan bisa menjadi pintu syetan untuk menggoda dan berusaha untuk menghentikan dari menghafal, maka jangan pedulikan godaannya dan teruslah menghafal, karena meghafal al-quran merupakan harta yang  sangat berharga dan tidak tidak diberikan kecuali kepada orag yang dikaruniai Allah swt, akhirnya kita memohon kepada-Nya agar termasuk menjadi hamba-hamba-Nya yang diberi taufiq untuk menghafal dan mengamalkan kitabNya dan mengikuti sunnah nabi-Nya dalam kehidupan yang fana ini. Amin ya rabal 'alamin.
     Artikel ter kait :

  • MEMBENTUK KELUARGA ISLAMI




  • Fitrah Pendidikan Anak




  • Matlamat Pendidikan




  • Cerita dan Lagu Anak Islam - Sholatlah Nak




  • Cintai Allah Cintai Islam 6




  • Cerita dan Lagu Anak Islam - Maafkan




  • Makna Rukun islam




  • Mengembangkan Potensi Diri




  • Hak dan Kewajiban dalam Keluarg